Probolinggo.seputarjawatimur.com – Gara-gara serng malak para Pedagang Kaki Lima (PKl) di area Stadion Gelora Maerdeka Kota Kraksaan Agus warga Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan babak belur di amuk massa pada minggu (5/1/2025) dini hari.
Peristiwa ini tengah ditangani Polsek Kraksaan seteah istri korban melaporkan peristiwa amuk massa terhadap suaminya.
Menurut Kanit Reskrim Polsek Kraksaan, Iptu Djuwantoro Setyowadi mengatakan bahwa memang benar Agus dikenal sebagai seorang preman yang sering minta dan mengambil barang milik pedagamg di area Stadion. Bahkan para PKl sering mendapat ancaman kekerasan apabila permintaannya tidak terpenuhi.
“Betul, istri dari yang bersangkutan sudah membuat laporan. Saat ini kami masih tengah melakukan penyelidikan,” tandasnya.
Sementara, Ketua Paguyuban PKL Stadion Gelora Merdeka Kraksaan, Didik Tri Wahyudi, mengungkapkan bahwa dalam dua bulan terakhir, Agus sering kali melakukan pemalakan terhadap para pedagang kaki lima (PKL) di area tersebut. Didik menyebutkan bahwa Agus tidak ragu untuk merusak barang dagangan para pedagang jika permintaannya tidak dipenuhi. Tindakan ini jelas meresahkan para PKL, yang merasa tertekan dan dirugikan oleh perilaku Agus yang dianggap tidak adil dan merugikan usaha mereka.
Uang hasil pemalakan tersebut menurut Didik di gunakan untuk membeli minuman keras dan mabuk mabukan di sekitar Stadion.
“Maksa mintanya mas, saya sendiri juga dipalak. Kadang saya kasih Rp 15 ribu, kadang juga minta rokok. Sudah lama dia meresahkan PKL di Stadion,” katanya.
Aksi pemalakan yang dilakukan Agus yang terus berlangsung hampir setiap hari akhirnya mendapat perlawanan dari para pedagang. Salah seorang pedagang yang merasa dirugikan karena barang dagangannya diambil paksa oleh Agus, akhirnya melawan perbuatan tersebut. Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 01.00 WIB pada Minggu dini hari. Pedagang tersebut menentang tindakan Agus yang dianggap sudah merugikan dan membahayakan kelangsungan usahanya. Perlawanan ini menunjukkan bahwa para pedagang mulai bersikap tegas dan berani terhadap pemalakan yang selama ini mereka alami.
Menurut penjelasan Didik Tri Wahyudi, kejadian tersebut bermula saat Agus mengambil empat porsi jamur krispi milik salah seorang pedagang. Kerugian yang dialami pedagang tersebut mencapai sekitar Rp 40 ribu, yang kemudian memicu perdebatan antara pedagang dan Agus. Ketegangan meningkat, dan pihak paguyuban mencoba untuk menengahi situasi yang semakin memanas. Akhirnya, karena perdebatan yang tak kunjung reda, pihak kepolisian pun turun tangan dan mengamankan Agus ke Mapolsek Kraksaan untuk proses lebih lanjut.
“ Karena merasa sudah diamankan pihak kepolisian, saya beranjak pulang dari Stadion. Namun sesaat kemudian, saya mendapatkan telepon bahwa Agus sudah dipukuli massa hingga bonyok di Stadion.” Ungkap Didik.
Didik Tri Wahyudi berharap agar aksi premanisme seperti yang dilakukan Agus tidak terulang di Stadion Gelora Merdeka Kraksaan. Ia menginginkan agar para pedagang bisa berjualan dengan tenang dan mendapatkan laba yang adil dari usaha mereka. Didik menambahkan,
“Semoga ke depan tidak lagi terjadi, karena mencari Rp 10 ribu itu susah. Apalagi premanisme yang mengatasnamakan Gus Haris, ini belum dilantik nama Gus Haris sudah dijelek-jelekkan oleh aksi premanisme.” Harapannya,
kejadian serupa tidak hanya merugikan pedagang, tetapi juga mencemarkan nama baik pihak-pihak yang tidak terlibat dalam tindakan tersebut.(bhj)












