Petani Tembakau Probolinggo Resah, Gudang Garam Belum Pastikan Pembelian di Musim Panen 2025

PROBOLINGGO.seputarjawatimur.com – Musim panen tembakau tahun ini belum sepenuhnya membawa angin segar bagi para petani di Kabupaten Probolinggo. Sebaliknya, keresahan mulai muncul seiring belum adanya kejelasan dari pihak gudang pembelian, khususnya Gudang Garam Unit Paiton, terkait penyerapan hasil panen tembakau rajang milik petani.

Maria Magdalena Olivia Ayunda, Pengurus Perwakilan Gudang Garam Unit Paiton, menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya masih menunggu keputusan dari kantor pusat. Ia tidak menampik kemungkinan bahwa, seperti tahun sebelumnya, pembelian tembakau oleh gudang bisa saja ditiadakan.

“Selain karena penjualan rokok yang terus menurun, stok bahan baku tembakau kami juga masih melimpah,” ujarnya, Rabu (25/6/2025).

Lebih lanjut, Olivia mengungkapkan bahwa penurunan daya beli terhadap rokok merek Gudang Garam juga dipicu oleh maraknya peredaran rokok ilegal tanpa pita cukai yang semakin sulit dikendalikan di pasaran.

Padahal, pada musim panen tahun lalu, para petani justru diuntungkan oleh lonjakan harga tembakau yang mencapai Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram. Kenaikan harga tersebut didorong oleh permintaan tinggi dari pabrikan rokok kelas menengah ke bawah yang terafiliasi dengan gudang-gudang kecil di berbagai daerah.

Namun, untuk musim ini, gudang-gudang kecil tersebut juga mulai berhitung ulang dalam pembelian tembakau. Pasalnya, regulasi pita cukai yang semakin ketat membuat mereka berhati-hati dalam menentukan harga dan jumlah pembelian.

Di sisi lain, tantangan para petani tembakau semakin berat akibat cuaca yang tidak menentu. Dalam beberapa minggu terakhir, kawasan penghasil tembakau di Kabupaten Probolinggo kerap diguyur hujan. Kondisi ini menyebabkan kerusakan pada tanaman dan berpotensi menurunkan mutu tembakau yang dihasilkan.

Dengan belum adanya kejelasan dari pihak pembeli besar serta tekanan dari kondisi cuaca dan pasar, para petani tembakau Probolinggo kini berada dalam posisi yang sulit. Mereka berharap ada perhatian dan solusi nyata dari pemerintah maupun industri untuk menjaga keberlangsungan sektor pertanian tembakau di daerah ini.(bhj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *