Probolinggo.seputarjawatimur.com — Curah hujan yang tinggi selama Mei hingga Juni 2025 berdampak serius pada kualitas tembakau di Kabupaten Probolinggo. Kondisi ini memaksa banyak petani untuk melakukan panen prematur, lantaran tanaman tembakau mereka mengalami kerusakan, mulai dari daun menguning, kerdil, layu, hingga terserang bercak daun.
DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Probolinggo langsung membentuk tim monitoring lapangan guna mengevaluasi kondisi di sejumlah sentra tembakau. Hasilnya, kerusakan tanaman mayoritas disebabkan oleh anomali cuaca kemarau basah yang tidak bersahabat bagi pertumbuhan tembakau.
“Saya tanam tanggal 26 Juni, sekarang baru 62 hari sudah harus panen, karena daunnya menguning dan kerdil. Padahal normalnya minimal 80 hari baru panen,” keluh Aminuddin, petani asal Desa Besuk, Kecamatan Besuk, Senin (28/7/2025).
Asnawi, petani lainnya, menambahkan bahwa segala upaya perawatan tanaman sudah dilakukan, mulai dari penyemprotan fungisida hingga pengolahan tanah sistem juring rotari, namun hasilnya tetap tidak maksimal akibat intensitas hujan yang tinggi.
Akibat menurunnya mutu tembakau, harga jual di tingkat petani pun ikut merosot tajam. M. Hasan, petani asal Desa Prasi, Kecamatan Gading, mengungkapkan bahwa harga tembakau rajangan saat ini hanya laku di kisaran Rp38.000 hingga Rp43.000 per kilogram. Jauh di bawah harga tahun lalu yang mencapai Rp50.000 hingga Rp75.000 per kilogram, tergantung tingkat petikan.
“Harga tembakau sangat tergantung petikan. Ini baru daun bawah, daun atas biasanya lebih mahal. Tapi karena kualitas tahun ini menurun, ya kami ikhlas saja. Yang penting masih diberi kesehatan,” ujar Hasan.
Ketua DPC HKTI Kabupaten Probolinggo, Ir Agus Salehuddin, mengakui bahwa hingga saat ini harga tembakau rajangan masih bersifat spekulatif lantaran gudang-gudang pembelian resmi belum buka. Tengkulak menjadi satu-satunya jalur distribusi yang aktif.
“Sampai saat ini belum ada pabrikan rokok yang membuka order. Harga masih fluktuatif, dan memang dipengaruhi banyak faktor, terutama mutu daun. Kita harus akui, kualitas tembakau tahun ini menurun akibat curah hujan yang tinggi,” jelasnya.
Namun demikian, HKTI berharap kualitas petikan daun bagian atas yang akan dipanen dalam waktu dekat bisa memberikan nilai jual yang lebih baik. Ir Agus optimis harga tembakau rajangan Probolinggo masih berpeluang tembus Rp60.000 per kilogram jika cuaca (bhj)












