Probolinggo. seputarjawatimur.com . Universitas Hafshawaty Zainul Hasan (Unhasa) Genggong baru saja menggelar Sidang Senat Terbuka untuk Program Diploma, Sarjana, dan Profesi. Sebanyak 654 mahasiswa Unhasa diwisuda pada Kamis, (7/11), di Gedung Islamic Center Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Upacara wisuda tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Hafshawaty, KH Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah.
Sidang senat yang di ikuti 654 mahasiswa ini terdiri dari beberapa jurusan , yakni D3 keperawatan sebanyak 47 mahasiswa, S1 Keperawatan sebanyak 173 mahasiswa , Profesi Ners 205 orang , S1 Bidang 16 orang , Profesi Bidan 210 orang , serta Farmasi sebanyak 3 mahasiswa.
Wisuda ini menjadi momen bersejarah bagi para mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya di berbagai program yang diselenggarakan oleh Unhasa. Dengan suasana penuh haru dan kebanggaan, para lulusan kini siap melangkah ke jenjang karir dan kontribusi lebih lanjut di masyarakat.
Wisuda ini selain di hadiri orang tua mahasiswa , juga di hadiri tamu undangan di antaranya Prof. Dr. Ahmad Taufiq, S.Pd., M.Si. dari Universitas Negeri Malang , Prof. Arif Hidayat Universitas Negeri Malang, Asosiasi Profesi Perawat (PPNI) dan Bidan (IBI) serta Ikatan Apoteker (IAI) baik dari Kabupaten maupun propinsi. Kelas Keperawatan Kabupaten dan kota di jawa timur, serta keluarga besar Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong.
Dalam sambutannya di depan para wisudawan, Ketua Yayasan Hafshawaty Zainul Hasan, KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, menyampaikan bahwa kesuksesan dan profesi sangat identik dengan kemampuan, kompetensi, dan keterampilan. Ia menekankan pentingnya mengembangkan ketiga aspek tersebut agar dapat meraih prestasi dalam dunia kerja dan kehidupan. Menurutnya, untuk mencapai kesuksesan yang sejati, para wisudawan perlu terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta berusaha untuk selalu meningkatkan kualitas diri melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan praktis.
“ kompetensi , keterampilan dan kemampuan tidak bisa dimiliki , tidak bisa diraih dengan santai , dengan leha leha , apalagi dengan abal abal. Tapi harus dengan kerja keras, dilakukan dengan penuh kesungguhan“ ujarnya.
Oleh karena itu, lanjut KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, yang juga Ketua MUI Jawa Timur, menurutnya, ketika kemampuan, kompetensi, dan keterampilan hilang dari seorang sarjana, maka kesarjanaan dan profesinya akan menimbulkan pertanyaan besar. Dalam pandangannya, gelar sarjana seharusnya bukan sekadar simbol akademis, tetapi juga sebuah tanggung jawab untuk memiliki kemampuan yang mumpuni di bidangnya.
“ Tanpa adanya kemampuan dan keterampilan yang sesuai dengan profesi yang dijalani, gelar sarjana bisa kehilangan maknanya dan tidak memberikan kontribusi yang optimal bagi masyarakat “tambahnya. (bhj)












