Ning Ana: Di Antara Kepatuhan, Pesantren, dan Panggung Politik

BONDOWOSO.seputarjawatimur.com -Di balik tembok sederhana Pondok Pesantren Al-Barokah yang terletak di Desa Padasan, Bondowoso, ada sosok perempuan bersahaja yang langkahnya begitu mantap menyusuri dua jalan besar: jalan spiritual dan jalan politik. Ia adalah N. Hj. Anaghayatul Ghuslah, S.Pd.I, yang lebih dikenal masyarakat dengan sapaan hangat Ning Ana.

Lahir pada 23 Juni 1975, Ning Ana merupakan putri pertama dari KH. Subhan Saifurruslan, seorang ulama terpandang yang dikenal akan keteguhan prinsipnya dalam mendidik santri dan membangun umat. Dari sang ayah, Ning Ana mewarisi semangat pengabdian dan kepatuhan terhadap nilai-nilai Islam yang tak goyah oleh perubahan zaman. Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, ia terbiasa memikul tanggung jawab sejak dini—menjadi panutan bagi adik, sekaligus tumpuan harapan keluarga.

Pendidikan formalnya dijalani di lembaga yang sangat kental dengan nuansa keagamaan, yakni MTs ZAHA 1 dan MA ZAHA Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo . Di sanalah ia tidak hanya belajar tentang ilmu-ilmu agama, tapi juga tentang pentingnya menjaga adab, menghormati guru, dan mematuhi aturan sebagai bagian dari proses pencarian jati diri.

Kepatuhan yang ia bangun sejak masa remaja bukan kepatuhan yang kaku atau buta, melainkan bentuk kesadaran bahwa aturan yang baik akan membentuk manusia yang beradab. Dalam banyak kesempatan, Ning Ana sering menyampaikan kepada santri-santrinya,

“Kalau kita ingin jadi orang besar, mulai dulu dari mematuhi aturan kecil. Karena orang yang tak bisa taat, akan kesulitan menjadi pemimpin yang amanah.”umbuhnya.

Setelah sang ibu wafat, tanggung jawab untuk mengasuh dan memimpin Pondok Pesantren Al-Barokah, khususnya pondok putri, jatuh ke tangannya. Ning Ana menerima amanah itu dengan lapang dada. Ia tidak hanya menjadi pengasuh dalam arti pendidikan, tapi juga menjadi ibu, pembimbing, dan sekaligus panutan spiritual bagi ratusan santri yang menimba ilmu di bawah asuhannya.

Namun, perjalanan Ning Ana tidak berhenti di pesantren. Pada tahun 2021, ia mulai menapaki dunia baru dunia politik dengan bergabung di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Banyak yang awalnya bertanya-tanya, mengapa seorang pengasuh pesantren terjun ke politik?

Jawaban Ning Ana sederhana tapi dalam:
“Kalau orang pesantren diam, siapa yang akan membawa nilai-nilai pesantren ke kursi kebijakan? Kepatuhan pada agama tak boleh membuat kita buta terhadap realitas sosial. Kita harus hadir, bukan hanya di masjid, tapi juga di ruang sidang dan kebijakan.”

Bagi Ning Ana, dunia politik dan dunia pesantren bukan dua kutub yang berseberangan. Ia meyakini bahwa profesionalisme dalam berpolitik bisa berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap nilai-nilai Islam, asalkan niat dan landasannya benar. Di panggung politik, ia membawa suara perempuan pesantren, memperjuangkan pendidikan, dan menjaga ruang-ruang moral agar tidak terpinggirkan oleh pragmatisme kekuasaan.

Di tengah aktivitasnya yang padat, Ning Ana tetap menjalankan peran sebagai seorang ibu. Ia sangat dekat dengan kedua putranya: M. Ilyas Mubarakurrahman dan Moh. Hasan Mahbubiy, yang akrab disapa Boby. Meski sibuk dengan berbagai agenda organisasi dan politik, ia tak pernah melewatkan waktu untuk mendampingi anak-anaknya tumbuh dengan nilai yang sama seperti yang ia pegang: tanggung jawab, kejujuran, dan kemandirian.

Saat ini, selain aktif membina pondok, Ning Ana juga terlibat aktif dalam organisasi Tanazsaha Cabang Bondowoso, sebuah wadah yang menjadi ruang silaturahmi dan penguatan peran perempuan dalam dakwah dan sosial kemasyarakatan.

Ning Ana adalah gambaran nyata bahwa perempuan pesantren bisa berdiri tegak di panggung publik tanpa kehilangan jati dirinya. Ia membawa kepatuhan sebagai dasar pijakan, dan profesionalisme sebagai bentuk tanggung jawab. Di tangannya, pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga pusat pembentukan kader umat yang siap berkontribusi untuk bangsa.

Langkah Ning Ana memang sunyi, tak selalu disorot media. Tapi dari sudut Bondowoso, ia sedang menuliskan jejak sejarahnya sendiri: seorang perempuan santri yang tidak hanya mematuhi, tapi juga memimpin dengan akal, hati, dan iman. (bhj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *