Probolinggo.seputarjawatimur.com– Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) IV Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo yang akan digelar pada Sabtu (6/12/26) di Auditorium Madakaripura, sejumlah pihak mulai memberikan pandangan dan harapan. Salah satunya datang dari Jaringan Intelektual Nahdliyin (JIN) Probolinggo, yang menilai momentum lima tahunan ini sangat strategis untuk menghadirkan kepemimpinan MUI yang lebih progresif dan responsif terhadap kebutuhan umat.
Koordinator JIN Probolinggo, Lukman Sumardi, menegaskan bahwa tantangan sosial-keagamaan saat ini membutuhkan peran MUI yang lebih cepat, adaptif, dan mampu merespons persoalan kekinian dengan pendekatan yang solutif.
“Kita butuh formula kepemimpinan MUI yang lebih progresif. Tidak hanya bertumpu pada ulama sepuh, tetapi juga memberi ruang bagi ulama-ulama muda yang memiliki kapasitas dan kepekaan terhadap isu-isu kontemporer,” ujarnya, Kamis (4/12/25).
Lukman menekankan bahwa Musda jangan hanya menjadi rutinitas organisasi, melainkan ruang penting untuk merumuskan arah baru kelembagaan MUI yang selama ini menjadi tumpuan umat.
“Harapannya, MUI hadir dengan solusi keumatan yang lebih solutif. Kehadiran ulama muda akan mempercepat capaian kerja MUI ke depan,” imbuhnya.
Delapan Ulama Muda Diusulkan Pimpin MUI Probolinggo
Dalam pandangan JIN Probolinggo, regenerasi kepemimpinan merupakan kunci penting untuk memastikan MUI tetap relevan. Mereka menilai banyak figur muda potensial di Kabupaten Probolinggo yang layak mengemban amanah sebagai Ketua Umum MUI periode mendatang.
Berikut delapan nama ulama muda yang dinilai memiliki kompetensi kuat:
1.KH. Mohammad Hasan Naufal (Nun Boy)
Putra KH. Hasan Saifourridzall ini merupakan pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Aktif membina Majelis Ta’lim wal Maulid Roudhotul Ulum (Tamru) dengan jamaah puluhan ribu, Nun Boy dikenal dekat dengan generasi muda serta memiliki pengaruh kuat di masyarakat akar rumput.
2.KH. Hassan Ahsan Malik (Nun Alex)
Intelektual muslim yang mempelopori gagasan pesantren multimedia pertama di Indonesia. Pernah menjadi Kepala Biro Komunikasi dan Informatika Pesantren Zainul Hasan Genggong, ia juga aktif di Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Jawa Timur. Pemikirannya tentang integrasi teknologi dalam sistem pesantren banyak diapresiasi.
3.KH. Hasan Abdurrahman Wafi (Lora Abdur)
Ulama muda dari Pesantren Nurul Jadid Paiton ini dikenal sejak kecil memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Ia menghafal 1.002 bait Alfiyah Ibnu Malik sejak usia belia, dengan pemahaman mendalam di bidang ilmu alat.
4.Lora Muhammad Imdad Rabbani (Lora Imdad)
Tokoh muda dari Nurul Jadid Paiton yang aktif berdakwah dan membina masyarakat. Pemikirannya dinilai relevan dengan tantangan sosial-keagamaan masa kini.
5.Muhammad Al Fayadl (Ra Fayyadl)
Akademisi dan penulis produktif yang mengajar di Ma’had Aly serta Universitas Nurul Jadid. Latar belakang pendidikan internasional memperkaya perspektifnya dalam filsafat, teologi, dan kajian kontemporer. Ia juga aktif dalam isu lingkungan dan konflik agraria.
6.KH. Asnawi Najib (Gus Najib)
Tokoh pesantren dari Ponpes Lubbul Labib di Kecamatan Maron ini dikenal memiliki jejaring luas dan mampu membawa perspektif segar bagi penguatan peran MUI di daerah.
7. KH. Fathurrozi (Gus Rozi)
Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam, Tegalsiwalan, yang dikenal mudah berkomunikasi dengan berbagai kalangan. Kiprahnya dalam pembinaan masyarakat menjadikan namanya diperhitungkan.
8.KH. M. Faisol Zaini (Gus Faisol)
Pengasuh Ponpes Al Ihsan Assyalafi, Leces, yang aktif berdakwah dan dekat dengan komunitas akar rumput. Ia konsisten mendorong penguatan pendidikan keagamaan di wilayahnya.
“Ulama-ulama muda di Probolinggo itu banyak dan kompeten untuk memimpin MUI. Asal diberi kesempatan, saya yakin MUI akan lebih baik,” tegas Lukman.
Musda IV MUI Kabupaten Probolinggo pun diperkirakan berlangsung dinamis, mengingat isu regenerasi dan pembaruan arah kerja lembaga tengah menjadi sorotan publik. (Bhj)












