Probolinggo.seputarjawatimur.com-Probolinggo baru saja usai gelar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah. Meski hasil dalam pemungutan suara masih menunggu realqount dari KPU, namun dalam quickcount sudah bisa di lihat siapa pemenangnya dalam kontestasi tersebut.
Hasil sementara pemungutan suara dari quikcount ini, pasangan nomor urut dua Gus Haris – Lora fahmi mampu mengungguli rival politiknya dari nomor urut satu Zulmi – Rasit yang merupakan putera mantan Bupati Hasan Aminuddin.
Hasil sementara yang menunjukkan Gus Haris – Lora Fahmi mendapatkan 80,58% suara dan Zulmi – Rasit hanya 19,42%, mencerminkan adanya perubahan signifikan dalam pola pemilihan di Kabupaten Probolinggo.
Politik uang seringkali menjadi salah satu tantangan terbesar dalam proses demokrasi di banyak daerah, termasuk di Probolinggo. Namun, jika memang budaya ini berhasil diminimalisir, itu berarti masyarakat sudah semakin cerdas dalam memilih pemimpinnya berdasarkan kapasitas dan visi misi yang ditawarkan, bukan karena iming-iming materi.
Fenomena ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran politik di kalangan warga, yang sudah mulai mengutamakan kualitas calon pemimpin daripada hanya keuntungan sesaat yang ditawarkan melalui politik uang. Hal ini juga mencerminkan perubahan positif dalam budaya demokrasi, di mana pemilih lebih memilih calon yang mereka yakini dapat membawa perubahan yang lebih baik bagi masa depan daerah mereka.
Kemenangan Gus Haris – Lora Fahmi dengan margin yang sangat besar menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Probolinggo mulai lebih memperhatikan aspek integritas dan visi pembangunan daripada praktik-praktik yang merusak esensi dari demokrasi.
Terkait fenomena tersebut di atas, terdapat salah satu sosok yang punya peran besar dalam meminimalisir permainan money polttic di kabupaten Probolinggo, Peran Satgas Anti Money Politic (AMP) yang dibentuk oleh LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) Kabupaten Probolinggo memang sangat signifikan dalam meminimalisir praktik politik uang dalam Pilkada. Lembaga ini, yang beroperasi di luar institusi resmi seperti Bawaslu atau Kepolisian, menjadi garda terdepan dalam menjaga integritas pemilihan umum dengan cara yang lebih independen dan berbasis pada partisipasi masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Samsudin, Satgas AMP berhasil mengidentifikasi dan menghalau berbagai upaya yang terindikasi sebagai politik uang, yang dapat merusak kualitas demokrasi. Keberadaan lembaga ini memperlihatkan bahwa masyarakat Probolinggo tidak hanya pasif sebagai pemilih, tetapi juga aktif dalam mengawasi dan memastikan bahwa proses pemilihan berjalan sesuai dengan prinsip keadilan dan transparansi.
Menurut Komendan Satgas AMP Samsudin mengatakan , Satgas AMP terdiri dari elemen-elemen masyarakat sipil memainkan peran yang sangat penting dalam menanggulangi practices of vote-buying. Mereka mampu mendeteksi serta menanggapi indikasi pelanggaran, baik melalui laporan langsung dari masyarakat ataupun pemantauan di lapangan, yang pada akhirnya dapat menekan laju politik uang yang seringkali merusak demokrasi lokal.
“ Keberhasilan Satgas AMP di Probolinggo menjadi contoh bagaimana organisasi masyarakat sipil yang bukan bagian dari lembaga negara bisa berperan besar dalam memperbaiki kualitas proses demokrasi. Ini juga menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kesadaran dan komitmen untuk menciptakan pemilihan yang lebih bersih dan bebas dari praktik negatif.” Ujarnya .
Samsudin adalah seorang tokoh yang berasal dari Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang telah menunjukkan komitmennya terhadap perjuangan pemberantasan korupsi di daerah. Lahir pada tahun 1982 di Desa Tiris, Kecamatan Tiris, Samsudin memulai karier sebagai Bupati Lira Kabupaten Probolinggo. Berkat dedikasinya dalam memajukan daerah dan memerangi praktik korupsi, ia kini menjabat sebagai Gubernur Lira Jawa Timur. Dalam peran barunya ini, Samsudin terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga integritas pemerintahan daerah, sambil menghadapi tantangan dalam upaya pemberantasan korupsi yang masih marak di berbagai tingkat pemerintahan..
Dengan keberhasilan ini,menurut Gubernur Lira Jawa Timur ini, Probolinggo dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang ingin mengurangi pengaruh politik uang dalam setiap pesta demokrasi mereka. (bhj)












