BLITAR.seputarjawatimur.com – Harga telur ayam di pasar tradisional Kota Blitar terus merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir. Di sejumlah pasar, harga telur ayam desa kini mencapai Rp30.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp26.000 per kilogram.
Salah satu pedagang di Pasar Pon, Sendi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga mulai terasa sejak akhir September dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Menurutnya, pasokan telur dari peternak berkurang, sementara biaya distribusi terus meningkat.
“Sejak akhir bulan September lalu sudah mulai naik dari Rp26 ribu, sekarang sudah tembus Rp30 ribu. Pasokan dari peternak sedikit, ongkos angkut juga naik,” ujarnya, Senin (27/10/2025).
Sendi menambahkan, para peternak mengeluhkan naiknya harga pakan dan biaya transportasi. Kondisi tersebut turut memperparah kenaikan harga di tingkat pengecer.
“Peternak bilang harga pakan naik, jadi mereka juga menaikkan harga jual ke pasar,” imbuhnya.
Kenaikan harga ini turut dikeluhkan pembeli di pasar. Ninik Purwaningsih, salah satu pembeli, mengaku harus menyesuaikan jumlah belanja hariannya karena harga yang semakin tinggi. Ia menilai, lonjakan harga telur juga dipengaruhi oleh adanya program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang tengah berjalan.
“Biasanya saya beli dua kilogram untuk dijual lagi, tapi sekarang harus kurangi karena mahal. Ini katanya juga karena program MBG, jadi permintaan naik,” ungkap Ninik.
Lonjakan harga telur membuat sebagian warga memilih mencari alternatif lain, seperti beralih ke telur ayam ras atau mengurangi konsumsi sementara waktu. Sementara itu, pedagang berharap harga bisa kembali stabil menjelang akhir tahun agar daya beli masyarakat tidak semakin turun. (Suk)












