Probolinggo.Seputarjawatimur.com.Dinilai memiliki kans tertinggi sebagai bakal calon Bupati Probolinggo 2024, tak lantas merubah pembawaan sosok satu ini. Ya. Dia adalah dr. Muhammad Haris, atau akrab disapa Gus Haris. Survei tertutup LSI Denny JA, dari sembilan calon bupati disebut bakal maju, elektabilitas Gus Haris, teratas dengan (23,6%). Posisi kedua disusul Mahdi (10,0%), Abdul Malik Haramain (9,8%), Timbul Prihanjoko (9,5%), Faisol Reza (3,4%), dan empat lainnya di bawah 1 persen.
Dalam kesehariannya, Gus Haris, masih dengan gestur humble dan humoris. Banyak masyarakat kompromi, jika ponakan KH. Mutawakkil Alallah itu, mudah didekati dan diajak komunikasi.
Sesekali joke-joke segar, justru dilempar ayah enam anak itu saat acara ngumpul-ngumpul. Yang menarik, sikap Gus Haris, ini diartikan kawan-kawannya, sebagai usaha tak ingin terjebak suasana ‘kaku’. Sekedar diketahui, budaya feodal hingga kini masih melekat di kalangan masyarakat Kabupaten Probolinggo.
“Ya begitulah Gus Haris. Asik orangnya. Memang sih, mendobrak budaya feodal di kalangan masyarakat susah banget. Memposisikan setingginya kehormatan seorang tokoh, pejabat, apalagi putra ulama besar, itu jadi budaya mereka,” ujar Hariadi, teman dekat Gus Haris.
“Masyarakat sendiri mengaku sungkan mau guyon sama Gus Haris. Beliau pengasuh pesantren dan turunan ulama besar. Sering jadi jujugan pejabat-pejabat tinggi negara dan tokoh nasional. Padahal Gus Haris, sendiri ga lihat dan beda-bedakan orang,” tambah pria berprofesi sebagai fotografer itu.
Sanada dikatakan Taufik Jumaan, teman bermain Gus Haris. Menurutnya, untuk mendobrak budaya feodal, sejak remaja Gus Haris, terjun langsung di berbagai komunitas masyarakat. “Tak ada jalan lain. Makanya sejak remaja Gus Haris, banyak ikut komunitas ini itu. Ya tujuannya biar orang ga berlebihan menjaga jarak sama beliau,” katanya.
“Wah pokoknya komunitas apa saja. Kalau diajak, Gua Haris, ga mungkin bilang enggak. Hahaha. Termasuk komunitas sepeda kuno, fotografi, piara merpati, banyaklah,” sambung pengusaha beras itu. Cucu Almarhum Al-Arif Billah KH. Hasan Saifourridzall, itu, juga paling suka bergabung di komunitas dengan banyak challenge.
Terpisah, Gus Haris, mengatakan, sejak kecil sudah terbiasa hidup di pesantren. Gaya egaliter dalam bergaul mulai dia rasakan sejak duduk dibangku sekolah. Mulai SD, SMP hingga SMA di Rejoso, Jombang. “Di SMA titik balik saya. Dari awalnya saya ini pemalu, menjadi pemberani dalam bergaul. Saya terpilih sebagai Ketua OSIS, SMA Darul Ulum, Jombang,” katanya.
“Satu hal yang saya ingat, yang tadinya seorang yang malu-malu, kemudian berubah drastis menjadi seorang remaja yang tiba-tiba saja confident. Nah itu titik awal di mana kemudian seorang Muhammad Haris, ini belajar banyak tentang hidup ya,” tutup putra pasangan KH. Muhammad Damanhuri Romli dan Hj. Diana Susilowati, atau karib disapa Ning Sus, itu (*)












