Torehkan Bahan Ramah Lingkungan Siswa SMPN 1 Pagu Belajar Membatik Cap 

​Kediri.seputarjawatimur.com – Moment Istimewa dilakukan siswa siswi SMP Negeri 1 Pagu Kabupaten Kediri, pada 5 November 2025 terlihat konsentrasi dan berkumpul bersama mengamati serta mengerjakan sesuatu pelajaran yang mungkin akan dilakukan saat usai lulus kelak.

Di tengah hiruk pikuk kegiatan sekolah, mereka mendapat kesempatan emas untuk meresapi keindahan warisan budaya Indonesia melalui sebuah pelatihan membatik yang unik dan inspiratif.

​Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek pengabdian masyarakat bertajuk “Pengembangan Inovasi Batik Cap Berbahan Reuseable Material dalam Membangun Ekosistem Entrepreneurship Lokal di Batik Wenangkayana Kediri” yang digagas oleh tim ahli dari Universitas Negeri Malang (UNM).

Proyek ambisius ini didanai oleh sumber non-APBN UNM tahun 2025 dan berlangsung dari 24 Februari hingga 10 November 2025.

Bukan sekadar membatik biasa, pelatihan ini memperkenalkan sebuah inovasi yang selaras dengan isu keberlanjutan global: penggunaan material daur ulang (reuseable material) dalam proses pembuatan batik cap.

“Kami ingin menunjukkan bahwa melestarikan budaya bisa berjalan beriringan dengan menjaga lingkungan,” ujar salah satu anggota tim UNM.

“Melalui inovasi batik cap berbahan daur ulang ini, siswa tidak hanya belajar teknik membatik, tetapi juga disadarkan tentang nilai ekonomi dan ekologi dari barang bekas.”

Di bawah bimbingan para akademisi UNM, tangan-tangan muda siswa-siswi SMPN 1 Pagu mulai terampil menggoreskan malam dan mencetak motif. Mereka belajar bahwa setiap motif batik memiliki cerita dan filosofi, menjadikannya lebih dari sekadar sehelai kain—namun sebuah narasi visual tentang identitas bangsa.

Harapan yang Terukir di Selembar Kain

​Antusiasme terpancar jelas dari wajah para peserta. Beberapa siswa tampak serius menyesuaikan cap dengan pola, sementara yang lain tak henti bertanya tentang proses pewarnaan alami. Kegiatan ini tak hanya menumbuhkan kreativitas, tetapi juga menanamkan cinta terhadap budaya lokal yang seringkali terlupakan di tengah gempuran budaya asing.

​Tri Utami, S.Pd., Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Pagu, menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada UNM karena telah memilih SMPN 1 Pagu sebagai tempat pengabdian masyarakat. Dengan memberikan pelatihan membatik kepada anak-anak kami, besar harapan saya pelatihan ini benar-benar memberi bekal kepada mereka untuk ke depannya, sekaligus mengenalkan mereka pada seni membatik.”

​Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menginspirasi siswa agar dapat melihat potensi ekosistem entrepreneurship lokal yang berbasis budaya. Bekal keterampilan membatik inovatif ini bukan hanya tentang melestarikan warisan seni, tetapi juga membuka pintu menuju peluang wirausaha masa depan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.(tar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *