Probolinggo.seputarjawatimur.com — Dalam nuansa religius yang sarat kekhidmatan, Haul ke-35 Almarhum Al-‘Arifbillah KH. Hasan Saifourridzall digelar dengan penuh penghormatan di Kampus Universitas Islam Zainul Hasan (UNZAH) Genggong, Probolinggo, Sabtu (28/6/2025) bertepatan dengan 2 Muharram 1447 H.
Acara yang diselenggarakan oleh DPP TANASZAHA ini menjadi ajang spiritual sekaligus refleksi perjuangan sosok muassis Pondok Pesantren Zainul Hasan yang telah meletakkan pondasi kokoh dakwah dan pendidikan Islam berlandaskan nilai rahmatan lil ‘alamin. Ribuan hadirin memadati area kampus, terdiri dari santri, alumni, tokoh masyarakat, ulama, hingga jajaran pejabat daerah.
Rangkaian haul dibuka dengan lantunan nasyid dan sholawat dari Jam’iyyah Hadroh UNZAH, dilanjutkan pembacaan Surah Yasin oleh Ustadz Moh. Ilham Ichlasul Amal, S.Psi., serta tahlil oleh KH. Amaruddin Sholeh, M.Pd.I. Suasana penuh haru dan rindu menyelimuti hadirin, menyatu dalam dzikir dan doa mengenang sosok KH. Hasan Saifourridzall yang karismatik dan penuh keteladanan.
Rektor UNZAH Genggong, Assoc. Prof. Dr. Abdul Aziz Wahab, CH., CHT., BA., M.Ag., dalam sambutannya menekankan bahwa haul bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum ruhaniyah untuk meneguhkan kembali semangat perjuangan sang pendiri pesantren.
“Tanaszaha bukan hanya organisasi alumni, tapi napas perjuangan pesantren yang terus hidup di tengah masyarakat,” tegas Rektor.
Beliau juga menyoroti pentingnya menjaga akidah dan adab, khususnya di lingkungan kampus.
“Jangan sampai kampus ini menjadi tempat pendangkalan akidah. Jika Genggong tidak memiliki perguruan tinggi, maka akan hilang peran alumni sebagai guru agama dan pemimpin umat.”
Tak lupa, beliau mengajak seluruh alumni untuk terus mengharumkan nama pesantren.
“Jaga lisan. Jangan menjelekkan pondok. Justru, sebarkanlah keberhasilan dan kemuliaannya agar dunia tahu bahwa Genggong adalah ladang ilmu dan cahaya.” Ungkapnya.
Sementara itu, dalam sesi pengarahan, KH. M. Hasan Nauval Saifourridzall (Gus Boy) menekankan pentingnya **sanad** sebagai penjaga kemurnian ilmu agama. Ia mengingatkan:
“Laulal isnad laqola man sya’a ma sya’a”* — “ Andaikan tidak ada sanad, maka siapa pun bisa berbicara sekehendaknya.”tambahnya
Menurutnya, pesantren dan lembaga pendidikan di Genggong adalah benteng terakhir penjaga sanad tersebut.
“Tugas kita sebagai alumni adalah menjaga sanad ini dengan akhlak, adab, dan amanah ilmu. Itulah warisan sejati dari para masyayikh.” Imbuhnya
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Nun Hassan Ahsan Malik, S.Sy., M.Pd., yang turut memberikan pesan menyentuh
“Jangan pernah lelah menjadi bagian dari perjuangan. Jangan malu menyebut diri sebagai alumni pesantren. Dari sinilah kita ditempa—dengan ilmu, akhlak, dan semangat dakwah. Mari lanjutkan perjuangan KH. Hasan Saifourridzall dengan cara kita masing-masing.” Terangnya.
Lantunan doa menutup rangkaian acara dengan penuh kekhusyukan, membingkai tekad bersama untuk terus menjaga dan meneruskan warisan keilmuan, spiritualitas, serta perjuangan yang telah ditanamkan oleh KH. Hasan Saifourridzall — sebagai suluh cahaya umat sepanjang zaman.(bhj)












