Geger. Keris Pusaka Bergagang Burung , Muncul Di Sumber Mata Air Milik Warga Di Banyuwangi

Banyuwangi.seputarjawatimur.com Mata air di lahan milik Susiyono di Dusun Pekiringan, Desa Sumbersari, Kecamatan Srono, Banyuwangi, menyimpan banyak cerita menarik dan misteri. Mata air tersebut diketahui tidak pernah kering sejak muncul pertama kali pada tahun 1975, menjadi sumber air abadi yang dimanfaatkan oleh warga sekitar. Namun, yang membuatnya semakin unik adalah penemuan sebuah benda sejenis keris di area tersebut.

Menurut Susiyono, penemuan keris ini terjadi secara tidak sengaja. Ibunya menemukan keris kecil tersebut di atas sebuah batu yang terletak tepat di belakang mata air. Meski terlihat sebagai benda biasa, keris ini dianggap memiliki nilai sejarah atau spiritual tersendiri oleh masyarakat sekitar. Penemuan ini menambah daya tarik mata air yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan warga Desa Sumbersari.
Cerita tentang mata air dan keris ini menyimpan misteri yang hingga kini belum terungkap sepenuhnya, namun menjadi bagian penting dari sejarah lokal dan kepercayaan masyarakat setempat.

“Ditemukan ibu kala itu. Beliau kaget lalu diambilnya dari atas batu tepat di belakang sumber,” kata Susiyono, Kamis (10/10/2024).

Setelah penemuan keris kecil dengan gagang berbentuk burung itu, Susiyono menerimanya dari sang ibu dan menyimpannya sebagai koleksi pribadi. Meskipun Susiyono sendiri tidak mengetahui kegunaan keris tersebut, dia hanya merasa benda itu unik dan berharga secara historis.
Namun, beberapa tetangga yang memahami hal-hal berbau klenik atau mistis memiliki pandangan berbeda. Mereka memperlakukan keris tersebut dengan cara yang lebih khusus, seperti benda bertuah yang mungkin memiliki kekuatan spiritual. Di beberapa tradisi, keris dianggap memiliki energi tertentu dan kerap diperlakukan dengan penuh hormat melalui ritual khusus atau ditempatkan di lokasi yang dianggap sakral.
Keris dengan gagang berbentuk burung itu pun, bagi sebagian orang di sekitar Susiyono, dianggap lebih dari sekadar benda biasa—ia dipandang memiliki nilai mistis, mungkin terkait dengan keberadaan mata air yang tak pernah kering, sehingga menarik minat mereka yang percaya pada kekuatan gaib.

“Selama ini saya simpan di rumah, setiap Syuro diberi minyak oleh tetangga yang tahu semacam itu,” imbuhnya.

Setelah penemuan keris kecil dengan gagang berbentuk burung itu, suasana di sekitar lahan milik Susiyono berubah. Para spiritualis yang sebelumnya sering datang berburu benda-benda pusaka di area mata air tersebut tidak lagi muncul. Fenomena ini berlangsung hingga sekarang, seolah-olah penemuan keris tersebut menandai berakhirnya pencarian benda-benda bertuah di tempat itu.

Bagi sebagian orang, hilangnya minat para spiritualis ini mungkin dianggap sebagai pertanda bahwa keris tersebut adalah satu-satunya benda pusaka yang “ditakdirkan” untuk ditemukan di area itu. Di sisi lain, hal ini juga bisa menandakan bahwa misteri mata air dan benda-benda yang dikaitkan dengannya telah mencapai titik akhir. Meskipun mata air tersebut masih tetap mengalir tanpa henti, pencarian benda-benda bertuah tampaknya sudah tidak menjadi perhatian lagi bagi mereka yang dulu tertarik pada dunia klenik.(gus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *