Pasuruan, seputarjawatimur.com – Pondok pesantren (ponpes) Bayt Al-Hikmah kembali menggelar Festival Dolanan Yok ke-8 secara berturut-turut yang di selenggarakan di halaman ponpes di Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Bugulkidul, Kota Pasuruan, pada Sabtu (20/01/2024) siang.
Acara Dolanan Yok sendiri digelar selama 2 hari pada Sabtu dan Minggu yang diikuti oleh 1900 peserta dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Tingkat Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dari seluruh Pasuruan Raya.
Di tahun ke-8 ini Dolanan Yok mengambil tema daerah Makassar dimana keislamannya cukup kental di masyarakat, sehingga setiap permainan ada filosofi yang dibawahnya.
Ketua panitia Mohammad Sholeh Latief menyampaikan, kegiatan dolanan ini untuk mengembalikan permainan anak-anak yang dilakukan pada umurnya, dengan permainan tradisional yang mulai ditinggalkan untuk berganti mainan modern.
“Tujuannya untuk mengembalikan anak-anak seumuran dalam permainan yang seharusnya dilakukan, bukannya permainan modern yang kurang toleran sesama teman yang bisa mengganggu emosional,” kata Sholeh.
Dolanan atau permainan anak ini memiliki 3 filosofi yang kuat dapat diterima oleh para pemainnya mulai dari kekuatan mental dimana ada menang dan kalah, kedua kekompakan dimana setiap permainan tradisional dimainkan secara kelompok, dan ketiga kekuatan fisik dimana permainan selalu bergerak hingga membentuk kekuatan tubuh.
Sholeh juga menambahkan pada saat ini ada 15 permainan tradisional yang dilombakan, salah satunya Magalle permainan asli dari Makassar yang permainannya menggunakan setengah batok kelapa sebagai pijakan untuk lari.
Peserta permainan magalle Jihan mengatakan permainan ini baru pertama kali dilakukan di acara Dolanan Yok, merasa tertantang untuk menang dengan lari di atas batok kelapa.
“Baru pertama kali main magalle permainan dari Makassar, sangat seru mainnya lari dengan memakai batok kelapa,” ucap Jihan.
Sholeh juga menyampaikan kegiatan Dolanan Yok digelar setiap tahun di ponpes Bayt Al-Hikmah dengan mengambil tema daerah di Nusantara, terbukti setiap tahunnya antusias peserta dari setiap jenjang sekolah meningkat, membuktikan dolanan anak masih dicintai dikalangan anak-anak generasi Z, dengan harapan permainan tradisional tetap dilestarikan. (nik)












